Antisipasi Ketatnya Pasar Kerja, Generasi Z Kutai Timur Didorong Kembangkan Usaha Mandiri
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sangatta – Terbatasnya kuota lowongan pekerjaan di sektor korporasi mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengubah orientasi pembekalan keterampilan bagi kalangan pemuda. Alih-alih hanya mencetak calon karyawan, Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan (Disnakertrans) Kutim kini memfokuskan program pelatihannya untuk melahirkan wirausahawan baru dari kelompok Generasi Z (Gen Z).
Langkah strategis ini diambil karena daya tampung perusahaan yang beroperasi di Kutim tidak lagi sebanding dengan tingginya angka pencari kerja. Oleh sebab itu, generasi muda dituntut memiliki keahlian alternatif agar mampu menciptakan sumber pendapatan secara mandiri tanpa harus terus-menerus bergantung pada rekrutmen perusahaan.
Kepala Disnakertrans Kutim, Sulisman, menilai bahwa pola pelatihan konvensional yang hanya berujung pada penyaluran tenaga kerja ke industri sudah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan saat ini. Meskipun para peserta pelatihan telah mengantongi sertifikasi kompetensi, keterbatasan formasi di perusahaan tetap menjadi penghalang utama terserapnya seluruh angkatan kerja.
“Sebenarnya kalau berharap di pelatihan saja, mungkin terus kemudian kita salurkan ke perusahaan, mungkin tidak maksimal juga sebenarnya untuk Gen Z ini,” ucap Sulisman saat ditemui belum lama ini.
Guna memberikan opsi karier yang lebih luas, pihak Disnakertrans kini merancang skema pelatihan yang dapat dikonversi langsung menjadi kegiatan bisnis mandiri. Selain membekali peserta dengan materi kewirausahaan, pemerintah daerah juga menyiapkan instruktur khusus di bidang teknologi informasi (TI) agar materi pembekalan tetap relevan dengan perkembangan zaman dan karakter generasi muda.
Melalui perpaduan kompetensi teknis dan keahlian berbisnis tersebut, keterampilan yang diperoleh peserta tidak lagi sekadar menjadi syarat melamar pekerjaan. Lebih dari itu, bekal ini diharapkan mampu memicu para pemuda untuk berani merintis dan mengelola unit usaha mereka sendiri.
Perluasan orientasi pelatihan ini diproyeksikan mampu membuat Gen Z di Kutai Timur lebih adaptif dalam menghadapi ketatnya persaingan dunia kerja. Ketika pintu rekrutmen di sektor industri sedang tertutup, generasi muda tetap dapat menggerakkan roda ekonomi secara mandiri melalui ide dan keterampilan wirausaha yang telah mereka kuasai.(Adv)
- Penulis: Redaksi
