Kejar Target Penimbangan Balita di Atas 50 Persen, Dinkes Kutim Perkuat Sistem Satu Data
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SANGATTA – Penanganan kasus stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini diarahkan agar sepenuhnya berlandaskan akurasi data riil di lapangan, bukan lagi sekadar perkiraan. Guna mewujudkan hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim mengintegrasikan seluruh pencatatan tumbuh kembang bayi dan balita ke dalam satu sistem digital yang terhubung secara berjenjang hingga ke pemerintah pusat.
Melalui sistem terpadu ini, rekam medis fisik anak yang meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas dihimpun dari berbagai titik layanan. Data pemeriksaan yang didapat dari Posyandu, kunjungan jemput bola, sekolah, maupun anak yang sedang berobat dan imunisasi di fasilitas kesehatan, seluruhnya wajib diinput oleh petugas ke dalam aplikasi E-Puskesmas.
Dari pangkalan data E-Puskesmas, informasi tersebut otomatis diteruskan ke sistem E-Dinas Kesehatan hingga terkoneksi secara daring ke tingkat nasional. Kepala Dinkes Kutim, Dr. Hj. Yuwana Sri Kurniawati, M.Si., menilai mekanisme satu data ini sangat krusial untuk mencegah terjadinya tumpang tindih atau selisih informasi antarlembaga. Dengan demikian, pemerintah daerah dapat memetakan secara presisi wilayah mana saja yang membutuhkan intervensi gizi mendesak.
Kendati sistem pencatatan digital telah berjalan, Yuwana mengakui bahwa pihaknya masih menghadapi tantangan terkait partisipasi masyarakat. Saat ini, tingkat kehadiran balita yang ditimbang dibandingkan dengan total jumlah sasaran (indikator D/S) di Kutim masih tergolong rendah, sehingga berisiko memengaruhi ketajaman evaluasi kondisi kesehatan anak secara menyeluruh.
“Angka D/S kita masih sekitar 34 persen. Kita ingin cakupan bayi yang ditimbang dibandingkan sasaran bisa lebih dari 50 persen,” jelas Yuwana.
Untuk mendongkrak capaian angka penimbangan tersebut, Dinkes Kutim terus memperluas jangkauan pemeriksaan di berbagai lini pelayanan kesehatan dan pendidikan. Semakin banyak balita yang terdata dalam pemeriksaan rutin, maka pijakan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan evaluasi program kesehatan dan intervensi stunting akan semakin kuat dan tepat sasaran.(Adv)
- Penulis: Redaksi
