Cegah Anak Kecanduan Gawai, Pemdes Swarga Bara Manfaatkan Dana Rp250 Juta per RT untuk Ruang Bermain dan Olahraga
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SANGATTA – Upaya mengalihkan perhatian anak-anak dari ketergantungan terhadap gawai (smartphone) kini digencarkan Pemerintah Desa (Pemdes) Swarga Bara melalui penyediaan ruang bermain yang aman serta pembinaan bakat olahraga sejak usia dini. Langkah preventif tersebut bahkan diperkuat hingga ke tingkat Rukun Tetangga (RT) dengan memanfaatkan alokasi dana Bantuan Keuangan Khusus (Bankeukus) senilai Rp250 juta untuk masing-masing RT.
Melalui dukungan anggaran ratusan juta rupiah tersebut, sejumlah pengurus RT di lingkungan Swarga Bara kini mulai mengusulkan pengadaan fasilitas bermain anak serta sarana olahraga terpadu di wilayah masing-masing. Inisiatif dari tingkat tapak ini sekaligus menjadi strategi pemerintah desa dalam menjaga predikat Desa Layak Anak (Kelana) yang telah diraih sebelumnya.
Kepala Desa Swarga Bara, Wahyuddin Usman, menilai bahwa ketersediaan ruang terbuka ramah anak dan kesiapan infrastruktur publik merupakan kunci utama di balik keberhasilan desanya menyabet status tersebut. Salah satu indikator krusial yang mendapat penilaian positif dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah hadirnya fasilitas umum di kawasan Town Hall yang dikelola secara kolaboratif bersama pihak yayasan.
“Mempertahankan status Desa Layak Anak ini justru tantangan terberat. Kalau sekadar meraihnya, administrasi dan persyaratan bisa disiapkan. Namun, memastikan fasilitas itu terus berguna butuh konsistensi,” ujar Wahyuddin belum lama ini.
Selain memperluas ruang ramah anak di pemukiman warga, Pemdes Swarga Bara juga secara konsisten memfasilitasi penyaluran minat dan bakat generasi muda di bidang olahraga. Untuk cabang sepak bola, pemerintah desa menaungi operasional Sekolah Sepak Bola (SSB) yang memusatkan kegiatan latihan rutin anak usia dini di area Lapangan Kabo, sekaligus mendukung partisipasi mereka di berbagai ajang turnamen tahunan.
Dukungan pembinaan sesuai kapasitas anggaran desa pun turut diberikan secara merata bagi cabang olahraga lainnya, tanpa semata-mata berorientasi pada perolehan piala atau gelar juara. Hasilnya, sederet atlet belia potensial sukses dicetak dari desa ini, mulai dari bibit pelari level kabupaten yang berasal dari kawasan Kampung Jawa hingga pesilat cilik yang mampu bersaing di kancah kompetisi tingkat regional.(Adv)
- Penulis: Redaksi
