Sangatta Utara dan Selatan Catat Kasus ISPA Tertinggi, Pemkab Kutim Perkuat Layanan Medis dan Logistik Masker
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SANGATTA – Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) kini tengah melanda kawasan permukiman di Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Tingginya jumlah pasien gangguan pernapasan di kedua wilayah tersebut dipicu oleh memburuknya kualitas udara akibat kepulan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terbawa hembusan angin hingga ke area tempat tinggal warga.
Merespons ancaman krisis kesehatan itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bergerak cepat menyiagakan sedikitnya 101.250 lembar masker gratis yang bersumber dari anggaran daerah. Bantuan pelindung pernapasan ini diprioritaskan bagi warga yang bermukim di zona paling rawan dan terdampak parah oleh paparan polusi udara.
“Untuk saat ini stok kami dari APBD ada masker bentuk hijab 60.000 pieces dan masker earloop 41.250 pieces, total sekitar 1.000 box,” ujar perwakilan Dinas Kesehatan.
Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, menerangkan bahwa selain menyiapkan puluhan ribu logistik masker, pihaknya juga telah memperkuat layanan medis dasar di seluruh unit pelaksana teknis daerah. Seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama atau Puskesmas kini disiagakan penuh untuk melayani keluhan masyarakat sekaligus menjadi titik distribusi masker tanpa dipungut biaya.
Saat ditemui awak media belum lama ini, mantan Direktur RSUD Kudungga tersebut menjelaskan bahwa mekanisme penyaluran bantuan dibuat sesederhana mungkin. Masyarakat maupun aparatur pemerintah desa setempat hanya perlu mengajukan permohonan kebutuhan masker secara langsung ke Puskesmas terdekat di wilayah masing-masing.
Lebih jauh, Yuwana menilai kombinasi antara polusi asap dan cuaca ekstrem yang menyengat belakangan ini turut memperparah kerentanan fisik masyarakat, sehingga situasi tersebut dikategorikan sebagai ancaman penyakit sensitif iklim.
Sebagai langkah perlindungan mandiri, pihak tenaga kesehatan mengimbau warga untuk mengurangi kegiatan di ruang terbuka dan menghindari sengatan terik matahari secara langsung agar terhindar dari risiko dehidrasi. Di samping itu, daya tahan tubuh di tengah cuaca ekstrem perlu dijaga dengan memperbanyak minum air putih serta rutin mengonsumsi asupan bergizi seperti buah dan sayur-mayur.(Adv)
- Penulis: Redaksi
