Kawal Nasib Lulusan SMP dan Pelaku UMKM Lokal, Wahyuddin Usman Fokus Perjuangkan Lahan Fasilitas Publik
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SANGATTA – Penerapan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru selama ini kerap menyulitkan para lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) asal Desa Swarga Bara untuk melanjutkan pendidikan. Padahal, jika ditinjau dari aspek jumlah populasi penduduk maupun kelayakan wilayah, desa tersebut dinilai sudah sangat memenuhi syarat untuk memiliki fasilitas gedung Sekolah Menengah Atas (SMA) tersendiri.
Kepala Desa Swarga Bara, Wahyuddin Usman, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi para pelajar di wilayahnya yang terpaksa menempuh jarak cukup jauh demi mengenyam bangku sekolah menengah atas.
“Kasian juga anak-anak kita yang harus pergi ke SMA 2 Sangatta Utara yang cukup jauh, bahkan ada anak kita juga yang sekolah di Sangatta Selatan, itu sangat jauh dari ujung ke ujung,” ujar Wahyuddin kepada awak media, beberapa waktu yang lalu.
Guna mengatasi persoalan akses pendidikan tersebut sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi warga, Pemerintah Desa (Pemdes) Swarga Bara di bawah kepemimpinan Wahyuddin kini memprioritaskan perjuangan penyediaan lahan untuk pembangunan gedung SMA dan pusat pasar desa. Langkah strategis ini bahkan telah dirintis sejak tahun 2023 silam melalui jalinan komunikasi intensif bersama pemegang konsesi pertambangan, PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Komitmen jangka panjang dalam penyediaan lahan ini dirancang secara terintegrasi agar kawasan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dapat berdampingan langsung dengan sentra perputaran ekonomi masyarakat. Kehadiran bangunan pasar desa yang bersifat permanen dinilai sangat krusial agar aktivitas pemasaran produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal dapat berlangsung secara berkelanjutan, tidak sekadar bergantung pada momentum pameran atau kegiatan seremonial semata.
Terlebih, potensi wirausaha warga di Desa Swarga Bara selama ini menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Melalui program pendampingan khusus, tercatat sudah puluhan pelaku UMKM setempat yang resmi mengantongi dokumen legalitas berupa Nomor Induk Berusaha (NIB) hingga sertifikasi halal. Selain produk harian, desa ini juga memiliki komoditas kriya unggulan yang telah dikenal luas oleh masyarakat, di antaranya yakni Batik Juwita, Batik Bumi Etam milik Ibu Wises, serta Batik Trisno.
Melalui penyatuan kawasan edukasi dan niaga di satu titik strategis, pemerintah desa berharap ruang pusat aktivitas warga yang mandiri dan berkesinambungan dapat segera terwujud di Swarga Bara.(Adv)
- Penulis: Redaksi
