Tekan Angka Pengangguran, Kutai Timur Maksimalkan Peran BLK dan LPK Berbasis Kebutuhan Industri
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SANGATTA – Tantangan penyerapan tenaga kerja lokal tidak hanya bertumpu pada persoalan penguasaan keahlian semata, melainkan turut dibatasi oleh ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lowongan di lapangan. Guna menjembatani kesenjangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan (Disnakertrans) terus menggenjot sinergi strategis bersama dunia usaha dan industri agar program pelatihan kerja benar-benar berorientasi pada kebutuhan riil pasar.
Kepala Disnakertrans Kutim, Sulisman, menyoroti bahwa keterbatasan formasi lowongan kerja kerap menjadi faktor penghambat terserapnya seluruh angkatan kerja lokal, meskipun para peserta telah mengantongi sertifikat kompetensi. Oleh sebab itu, arah kebijakan pelatihan daerah dirancang secara adaptif agar tercipta keterkaitan yang erat (link and match) antara dunia industri dan pencari kerja.
“Kompetensi sehingga kenapa lokal ini terkadang enggak bisa terserap semua, selain kompetensi juga keterbatasan ketersediaan lowongan,” ucap Sulisman saat ditemui di ruang kerjanya.
Untuk memastikan materi pembekalan tidak salah sasaran, Disnakertrans Kutim memperluas jalinan kemitraan melalui berbagai kanal, mulai dari optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK), menggandeng Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), hingga membina Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) swasta. Seluruh lembaga tersebut didorong agar proaktif membangun komunikasi langsung dengan pihak korporasi demi membaca tren kebutuhan keahlian terkini.
Langkah kolaboratif ini telah membuahkan hasil positif. Sejumlah perusahaan berskala besar yang beroperasi di wilayah Kutai Timur, seperti PT Pamapersada Nusantara (PAMA), PT Kaltim Prima Coal (KPC), hingga PT Indominco Mandiri (IMM), tercatat rutin membangun komunikasi dua arah dengan pihak dinas terkait penyiapan tenaga kerja.
Melalui pelibatan aktif perusahaan-perusahaan tersebut, standar materi pelatihan dapat disesuaikan langsung dengan kualifikasi teknis yang disyaratkan di lapangan. Pendekatan ini dipastikan mampu membekali para pencari kerja lokal dengan kompetensi yang aplikatif, sehingga mereka tidak hanya sekadar lulus dari program pelatihan, tetapi benar-benar siap mengisi formasi lowongan yang dibuka oleh industri.
“Harapan kami bisa memberikan pembekalan kepada mereka, persiapan, yaitu melakukan pelatihan-pelatihan sehingga mereka mempunyai kompetensi sesuai harapan perusahaan,” pungkas Sulisman.(Adv)
- Penulis: Redaksi
